Industri Babi China Terpuruk, Harga Anjlok dan Biaya Pakan Melonjak

NusaPork.com – Industri peternakan babi di China menghadapi tekanan serius akibat melemahnya konsumsi domestik yang dibarengi lonjakan biaya produksi. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga pakan ternak.

Dilansir dari Bloomberg, pemerintah China kembali mendorong peternak untuk mengurangi jumlah induk babi dan tingkat produksi guna menyesuaikan pasokan dengan permintaan. Selain itu, pemerintah juga melakukan pembelian daging babi beku untuk cadangan negara sebagai langkah stabilisasi pasar.

Tekanan terhadap industri semakin terlihat dari penurunan harga yang signifikan. Data pasar menunjukkan harga babi di China telah jatuh ke level terendah dalam setidaknya 15 tahun. Margin produsen juga merosot hingga titik terendah dalam empat tahun terakhir.

Di sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi China yang melambat sejak pandemi membuat konsumsi rumah tangga menurun. Daging babi, yang selama ini menjadi protein utama masyarakat, ikut terdampak karena perubahan pola belanja konsumen.

Sementara itu, biaya produksi terus meningkat. Harga dua komponen utama pakan ternak, yaitu jagung dan bungkil kedelai, mengalami kenaikan di pasar komoditas. Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan energi dan pupuk global akibat konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Kondisi tersebut menyebabkan peternak mengalami tekanan ganda, yakni harga jual yang turun dan biaya produksi yang meningkat. Dalam beberapa bulan terakhir, kerugian peternak dilaporkan telah melampaui 400 yuan per ekor, sebuah kondisi yang dinilai tidak berkelanjutan.

Harga grosir daging babi saat ini berada di kisaran 17 yuan per kilogram, mendekati titik terendah dalam empat tahun terakhir. Penurunan ini menjadi perhatian pemerintah karena daging babi memiliki peran besar dalam pembentukan indeks harga konsumen di China.

Masalah lain yang dihadapi industri adalah kelebihan pasokan. Setelah wabah African swine fever beberapa tahun lalu, pemerintah mendorong peningkatan populasi ternak secara agresif. Namun, peningkatan tersebut melampaui kebutuhan pasar ketika konsumsi justru melemah.

Meskipun jumlah induk babi telah dikurangi menjadi sekitar 39,6 juta ekor, angka tersebut masih berada di atas batas ideal yang ditetapkan pemerintah. Jika tekanan pasar berlanjut, pemangkasan produksi diperkirakan akan semakin cepat dalam beberapa kuartal ke depan.

Situasi ini berpotensi mendorong sebagian peternak keluar dari industri, sekaligus membuka peluang perubahan struktur pasokan daging babi global.

Share Yuk:
Scroll to Top