Jumlah Produksi dan Populasi Babi Berdasarkan Provinsi di Indonesia

Perkembangan subsektor peternakan babi di Indonesia menunjukkan pola sebaran yang tidak merata antarwilayah. Data tahun 2025 mencatat bahwa populasi babi nasional tersebar di berbagai provinsi dengan konsentrasi terbesar berada di kawasan Indonesia Timur. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan faktor geografis, tetapi juga berkaitan erat dengan pola konsumsi dan budaya masyarakat setempat.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian yang dilansir melalui Badan Pusat Statistik, Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan populasi babi terbesar secara nasional. Posisi tersebut diikuti oleh Sulawesi Selatan, Bali, dan Papua Tengah yang juga menunjukkan angka signifikan dalam struktur populasi nasional.

Berikut daftar populasi babi di 38 provinsi di Indonesia berdasarkan data tahun 2025 (angka sementara):

  1. Nusa Tenggara Timur: 1.083.286 ekor
  2. Sulawesi Selatan: 474.070 ekor
  3. Bali: 433.481 ekor
  4. Papua Tengah: 417.425 ekor
  5. Sumatera Utara: 263.675 ekor
  6. Papua Pegunungan: 109.196 ekor
  7. Sulawesi Tengah: 103.635 ekor
  8. Kalimantan Tengah: 94.882 ekor
  9. Lampung: 68.184 ekor
  10. Kalimantan Barat: 62.511 ekor
  11. Sulawesi Utara: 60.537 ekor
  12. Nusa Tenggara Barat: 58.392 ekor
  13. Riau: 53.267 ekor
  14. Sumatera Barat: 51.567 ekor
  15. Jawa Tengah: 50.220 ekor
  16. Maluku: 49.026 ekor
  17. Jawa Timur: 46.434 ekor
  18. Kalimantan Timur: 26.106 ekor
  19. Kalimantan Utara: 21.955 ekor
  20. Kepulauan Riau: 20.498 ekor
  21. Papua Barat: 17.740 ekor
  22. Maluku Utara: 17.589 ekor
  23. Papua Selatan: 16.214 ekor
  24. Sulawesi Tenggara: 15.073 ekor
  25. Sumatera Selatan: 11.367 ekor
  26. Kepulauan Bangka Belitung: 10.136 ekor
  27. DI Yogyakarta: 8.595 ekor
  28. Papua Barat Daya: 6.918 ekor
  29. Sulawesi Barat: 5.760 ekor
  30. Kalimantan Selatan: 3.141 ekor
  31. Gorontalo: 2.408 ekor
  32. Jambi: 2.306 ekor
  33. Aceh: 2.255 ekor
  34. Jawa Barat: 1.912 ekor
  35. Bengkulu: 1.763 ekor
  36. Banten: 1.462 ekor
  37. DKI Jakarta: 0 ekor

Dominasi wilayah Indonesia Timur dalam populasi babi menunjukkan bahwa sektor ini memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan pangan lokal. Selain untuk konsumsi harian, keberadaan ternak babi juga berkaitan dengan aktivitas sosial dan budaya di berbagai daerah, khususnya di Nusa Tenggara Timur, Bali, dan sebagian wilayah Sulawesi serta Papua.

Dari sisi produksi, daerah dengan populasi tinggi memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan peternakan dan distribusi daging babi. Hal ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperkuat rantai pasok, terutama dalam penyediaan daging babi segar maupun produk beku yang semakin dibutuhkan oleh sektor rumah tangga dan industri kuliner.

Di sisi lain, provinsi seperti Sumatera Utara dan Lampung menunjukkan posisi strategis dalam mendukung distribusi antarwilayah, terutama menuju pasar-pasar besar di Pulau Jawa. Ketersediaan jalur logistik yang lebih baik menjadi faktor pendukung dalam pengembangan distribusi produk daging babi secara nasional.

Perlu dicatat bahwa data tahun 2025 masih bersifat sementara dan dapat mengalami perubahan seiring dengan proses pemutakhiran data oleh instansi terkait. Namun demikian, data ini memberikan gambaran awal mengenai struktur populasi babi di Indonesia sekaligus potensi pengembangan sektor peternakan ke depan.#

Share Yuk:
Scroll to Top